Selasa, 21 Juni 2011

Ayo Perhatikan Opportunity Costnya

Bismillahirrahmanirrahim..

       Alhamdulillah, begitu banyak hikmah yang bisa kita ambil di setiap aktivitas dan kejadiaan yang menimpa kita setiap waktu, tidak terkecuali didalam teori suatu ilmu sekalipun. Ada hal yang menarik dalam pembahasan salah satu teori yang di sampaikan oleh dosen Mikro beberapa waktu yang lalu. Yap teori Opportunity Cost

     Secara konsep, yang dimaksud Opporunity Cost adalah biaya yang dikeluarkan ketika memilih suatu kegiatan. Berbeda dengan biaya sehari-hari, biaya peluang muncul dari kegiatan alternatif yang tidak bisa kita lakukan. Sebagai contoh, misalkan seseorang memiliki uang Rp.10.000.000. Dengan uang sebesar itu, ia memiliki kesempatan untuk bertamasya ke Bali atau membeli sebuah TV. Jika ia memilih untuk membeli TV, ia akan kehilangan kesempatan untuk menikmati keindahan Bali; begitu pula sebaliknya, apabila ia memilih untuk bertamasya ke Bali, ia akan kehilangan kesempatan untuk menonton TV. "Kesempatan yang hilang" itulah yang disebut sebagai biaya peluang.

    Lalu, hikmah apa yang bisa diambil? bukannya itu hanya sekedar teori yang ada di dalam ekonomi? Yap, mengutip dari perkataan dosen mikro saya. "Saya tidak habis pikir terhadap semua orang yang sering melakukan tindak pidana, apalagi kejahatan yang mereka lakukan itu tidak memberikan hasil yang sebanding dengan ganjaran yang akan mereka dapatkan. Contohnya seseorang yang mencuri helm motor, apalagi pelakunya itu seorang mahasiswa atau orang yang masih muda. Ketika dia tertangkap lalu di DO bahkan bisa dipenjara apakah dia tidak berfikir bahwa dia telah menukarkan masa depannya hanya dengan sebuah helm yang mungkin harganya tidak seberapa? akan sangat kelewatan lagi jika yang melakukan itu adalah orang yang telah menjadi mahasiswa ekonomi yang otomatis konsep seperti ini sudah sangat mereka pahami'. Hmmh oke, ternyata pernyataan dosen itu benar banget, lalu saya berfikir. Apakah konsep ini juga bisa dipakai ya oleh kita ketika kita melalaikan segala sesuatu yang diperintahkan Nya? Ketika kita ingin melakukan dosa, apakah kita sudah memikirkan opportunity costnya? apalagi jika kelalaian kita itu juga mengakibatkan kerugiaan kepada orang lain, contohnya mencuri tersebut. Ya mungkin kalau yang gak pernah mencuri sih gak bakal memikirkan masalah konsep seperti ini, tapi gimana dengan shalat? bukankah semua muslim baligh wajib mengerjakannya??

            Ya, saya akui terkadang TS nya pun masih suka lalai dalam menunaikan kewajiban, ya karena saya akui manusia memang tempatnya khilaf, tapi masih ada waktu berubah sebelum nyawa sampai ke kerongkongan. Karena Allah juga Maha penerima taubat bukan, dan pastinya taubat yang sungguh-sungguh lah yang akan diterima. Dan sesungguuhnya orang yang bijak bukanlah orang yang hanya mampu menyelesaikan masalah yang dia hadapi, tetapi orang yang bijak adalah orang yang mampu mengambil hikmah disetiap permasalahan yang dia hadapi.

Ayo-ayo semangat menuju kebaikan ! ! ! ! !

فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِن رَّبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya allah Maha Penerima taubat lagi maha penyayang (Qs 2:37)

Selasa, 14 Juni 2011

Hanya Satu Kesalahan dan Semua menjadi Berantakan

Bismillahirrahmanirrahim...

    Satu lagi pengalaman yang sangat berharga didalam hidup saya. Mungkin teman-teman pernah mengetahui pepatah yang berbunyi "akibat nilai setitik rusak susu sebelangga", well pepatah itu benar-benar terjadi di kehidupan saya kemarin. Sebuah kesalahan yang sungguh-sungguh menghancurkan semua rencana saya yang telah tersusun rapih sebelumnya.

    Begini ceritanya, pelajaran mikro merupakan pelajaran yang cukup sulit dibandingkan dengan pelajaran yang lain, dan membutuhkan kerja keras yang lebih untuk memahami pelajaran tersebut. Alhamdulillah mikro kali ini mendapat dosen yang cukup menyenangkan, walaupun banyak opini publik yang mengatakan kalau dosen mikro saya ini "killer dan pelit nilai". Seiring berjalannya waktu, minggu per minggu terlewati dan saatnya kuis pertama, ada 2 hal yang dikatakan dosen saya ini sebelum ujian, dan saya anggap 2 hal tersebut ada hal baik dan buruknya. Hal buruknya adalah beliau memang tidak akan toleran terhadap nilai, ya kalau nilai D yaudah D, tapi kalau nilai A yaudah A, dan hal ini saya anggap prinsip yang cukup wajar lah yang dimiliki oleh seorang dosen. Dan hal baiknya adalah beliau bilang, selama 1 smester ini kita akan menempuh sebanyak 5 kuis dan 1 UTS. Dan jika dari 4 kuis dan UTS itu mendapat nilai A maka kita di bebaskan untuk tidak mengikuti UAS danIP kita untuk mikro langsung A.

     Dan kuis pertama pun dimulai, bismillah dengan bekal seadanya dan mental yang belum siap pun saya mengerjakan soal tersebut. Seminggu kemudian  ujian tersebut dibagikan dan hasilnya cukup mengecewakan, saya hanya mendapat nilai 70 dan itu berarti kira-kira setara dengan B. Yah saya pikir sudahlah masih ada 4 kuis lagi yang bisa saya selamatkan. Berlanjut ke kuis ke 2, pada kuis kali ini saya cukup optimis mendapat nilai A. Dan alhamdulillah benar, hasilnya mendapat nilai 85, yang artinya setara dengan nilai A. Lalu kemudian kuis ke 3, rasa optimis saya benar-benar meningkat karena saya sudah punya modal nilai A ditangan. Tapi pas selesai ternyata ada jawaban yang salah karena tidak sesuai dengan teori di buku, dan itu benar-benar membuat mental saya hancur. Saya hanya bisa berdoa semoga ada keajaiban berdoa, kemudian seminggu kemudian hasil kuis ke 3 dibagikan dan hasilnya.... Subahanallah, AllahuAkbar, Alhamdulillah.. Kata-kata itu yang selalu saya ucapkan, sungguh sangat-sangat ajaib nilai saya mendapat nilai 96, dan ternyata teori yang dulu saya fikir salah ternyata tidak beda jauh dengan teori yang dibuku. Tinggal 3 ujian lagi yang saya lewati (UTS dan 2 Kuis) untuk bisa lolos UAS.

     Pertengahan semester pun tiba. Dosen mikro saya sudah memberikan ancang-ancang supaya kami belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi UAS, dan menghimbau kepada mahasiswa yang sudah mendapat nilai bagus untuk dipertahankan. Ketika itu pun saya selalu mengucapkan kata-kata "Insya Allah bisa - Insya Allah bisa", belajar dan belajar pastinya tidak lupa berdoa juga saya lakukan. Dan waktu UTS pun tiba, alhamdulillah saya cukup lancar mengerjakannya , timbul perasaan lega setelah mengerjakannya dan berharap didalam hati "semoga Allah memberikan yang terbaik.. aamiin". Tidak membutuhkan waktu lama untuk mengetahui hasil UTS nya karena minggu selanjutnya hasilnya sudah dibagikan. Alhamdulillah segala puji bagi Allah nilai saya 100 (what a perfect score), sontak diri ini terdiam dan hati ini berbicara "ayo tinggal selangkah lagi, pasti bisa, bismillah..." Dan setelah itu pak dosen mikro berkata "Buat yang UTS nya bagus tinggal 2 kuis lagi, kalau bisa dapet nilai A bisa bebas UAS dan nilainya langsung A". Sip tinggal beberapa langkah lagi.

     Tapi entah kenapa di kuis ke 3 ini, bukannya malah gencar persiapan belajarnya malah menjadi kendur. Apa mungkin diri ini sempat menganggap remeh ujian yang akan dihadapi, jadilah saya belajar hanya sekedarnya bahkan malamnya sempet jalan ke Malang Tempo Doeloe (semacam jakarta fair). Kuis ke 4 pun tiba, sempat panik melihat soalnya karena cukup sulit ternyata. Yasudahlah saya hanya mengerjakan dengan hati gelisah dan alakadarnya. Dan tragedi itu pun terjadi, dosen mikro saya bilang "kalau kuis ada yang nyontek lagi besok, saya dismiis satu kelas ini satu semester". Hal ini terjadi karena Pak Dosen kedapatan melihat beberapa mahasiswa yang tidak sprotif dalam mengerjakan kuis. What the **** , apabae dah masa iya di dismiss gara-gara hal itu. Alhasil setelah kuis mood bener-bener rusak banget dah, tapi tetep berharap dan berdoa semoga hal itu memang cuma gertakan. Seminggu kemudian pelajaran mikro dimulai lagi, dan anehnya kuis ke 4 tidak dibagikan (kenapa nih??), dan pak dosen pun tidak berkata apa-apa, yasudahlah mungkin memang belum sempat diperiksa kuis ke 4 nya (mencoba husnudzan). Dan akhirnya seminggu kemudian kuis ke 4 pun dibagikan + kuis ke 5 terlaksana, setelah selesai kuis pak dosen pun memanggil nama saya dan memberikan ujiannya. Dan...... astagfirullahaldzim apadeh nih nilai 12/50 (what a bad score), bener-bener rusak, hancur tidak terbentuk dah semua usaha saya selama ini. Ibarat puzzle yang udah hampir jadi, malah berantakan. Awalnya saya fikir memang jawaban saya lah yang salah, tapi setelah saya pelajari ternyata bukan. Dan penyebabnya adalah Pak Dosen Mikro semacam memberikan sanksi dengan menganggap semua jawaban kami dikelas semua salah, hal ini diakibatkan perbuatan tidak sportif yang beberapa teman kami lakukan. Setelah itu mood bener-bener rusak parah, mental juara yang telah terbentuk sebelumnya luluh lantah akibat score kuis ke 4 yang tidak seharusnya rusak, apalagi ntar jam ke 3 ada kuis Makro, makin sip aja dah penderitaan hari ini

   Mungkin teman-teman beranggapan bahwa saya mengejar nilai di dalam mikro ini. Sebenarnya tidak, karena saya beranggapan, jika saya bisa lulus mikro tanpa UAS saya jadi lebih bisa mempersiapkan diri saya menghadapi UAS-UAS lain yang masih sangat-sangat tertinggal materinya. Tapi yasudah lah nasi sudah menjadi bubur, mau diapaiin lagi. Tapi kalau kata AA Gym, nasi yang sudah menjadi bubur tinggal ditambahin aja sama sayur-sayuran bawang gore dan ayam goreng, sehinggal yang tadinya hanya bubur kosong sekarang bisa menjadi bubur ayam :D . Dan artinya itu adalah kita tidak boleh menyerah kepada keadaan, karena seorang pemenang itu bukan dilihat dari seberapa berhasilnya kah dia dalam menghasilkan sesuatu tetapi seorang pemenang itu adalah orang yang mampu bangkit setiap kali dia mengalami kegagalan. Semoga bisa menjadi renungan dan bisa diambil hikmahnya.


Alhamdulillah

Jumat, 03 Juni 2011

ketika kebiasaan baik menjadi sesuatu yang asing

Bismillahirramanirrahim..

    Sudah sekitar hampir 1 tahun saya beraktivitas di kampus, baik itu aktivitas kuliah ataupun aktivitas organisasi yang lain. Ya memang pada awalnya sempat kebingunan juga mengatur jadwal, karena SMA dan kuliah mempunyai atmosfer yang sangat berbeda baik dari segi aktivitas belajar maupun aktivitas sosial. Tapi seiring berjalannya waktu kebingungan tersebut berubah menjadi keterbiasaan. Hari demi hari, bulan demi bulan saya lalui di kampus, ikut lembaga-lembaga kemahasiswaan baik organisasi maupun keilmuan. Bukan adib kalau gak maruk namanya, dalam smester ini saya langsung ikut ke 3 lembaga di kampus dan cukup sangat-sangat kelabakan mengatur jadwalnya, bukan hanya jadwal belajar, melainkan amalan-amalan baik yang biasa di lakukan pun mulai bolong-bolong. Dan saya fikir kejadiaan ini sempat juga dirasakan oleh teman-teman lain yang sangat aktiv di kampus.

     Kemudian keasingan  itu datang, entah kapan hal tersebut merasuki diri ini. Semua serba asing, ketika tilawah menjadi sebuah kebutuhan untuk menjernihkan hati dan pikiran ini, ketika shalat tahajud menjadi panggilan untuk dilakukan setiap malamnya dan kita kerjakan dengan khusyuk (boro-boro khusyuk, sekarang aja udah bolong-bolong) , ketika al-matsurat senantiasa menemani diri ini ketika pagi dan sore hari, ketika shalat dhuha menjadi sebuah kebutuhan untuk mengistirahatkan tubuh ini di tengah aktivitas sekolah, ketika murotal selalu menemani kita disela-sela aktvitas kita (sekarang mah doyannya pop, rock yang kayak di TV-TV itu -.-). Semua itu serba asing, tidak seperti dahulu ketika SMA yang dengan sangat mudah dan nikmat aktivitas-aktivitas tersebut dilakukan, apa sebenarnya penyebabnya? apa ketika SMA dahulu kita sibuk menjaga image sebagai anak ROHIS sehingga menjadi hal yang wajar untuk melakukan hal-hal tersebut, atau takut tidak lulus ujian akhir dan tes masuk PTN, sehingga setiap detiknya kita selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah supaya DIA memberikan kita kemudahan dalam menempuh ujian atau karena kita terlalu sibuk mengerjakan amanat-amanat yang banyak sampai-sampai kita keasyikan dan tidak meluangkan waktu sedikitpun untuk mengerjakannya? well saya fikir bukan itu alasanya. Setelah saya merenung cukup lama, saya bisa menyimpulkan bahwa keasingan itu bukanlah datang kepada kita, tetapi kita lah yang menciptakan keasingan tersebut. Kenapa? keasingan itu bisa muncul akibat frekeuensi aktivitas-aktivitas kebaikan itu sudah sangat jarang dilakukan, memang faktor lingkungan menjadi hal yang cukup mempengaruhi kita, tapi kunci utamanya adalah pada diri kita sendiri, seberapa mampukah kita memaksa diri kita untuk menstabilkan frekuensi aktivitas kebaikan kita. Tidak usah muluk-muluk mengejar target terlalu tinggi, cukup lakukanlah dengan konsisten.

"Amalan yang paling di cintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu walaupun sedikit." (HR Bukhori dan Muslim)

Laksanakan amalan semampu kalian, sesungguhnya Allah tidak bosan sampai kalian (sendiri) yang bosan dan sesungguhnya amalan yang paling di cintai Allah adalah amalan yang kontinu (berkesinambungan) walaupun sedikit." (HR Abu Daud)

     Dan ternyata bukan amalan kita yang bisa membawa kita kedalam syurgaNya, tapi kita bisa masu ke syurga karena rahmat dan kasih sayang Allah semata, begitu baiknya Allah sama kita... Insya Allah, beramal sedikit akan tetapi bisa terus menerus (kontinu) itu lebih baik dari pada beramal banyak akan tetapi tidak bisa kontinu. Seiring amalan kecil berjalan kita berusaha meningkatkan sedikit-sedikit kadar amalan sholeh kita sehingga kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik setiap waktunya.  Insya Allah



Senin, 30 Mei 2011

Entah kenapa semua mimpi itu seakan lenyap

Bismillahirrahmanirrahim

           Entah kenapa, semua mimpi besar itu seolah-olah menghilang satu demi satu. Jika diibaratkan sebuah puzzle, maka setiap sisi puzzle yang saling melengkapi untuk membentuk sebuah gambar itu hilang begitu saja. Ya pada awalnya saya sangat optimis memilih cita-cita ini dengan tujuan mendapat ridho ilahi. Cita-cita yang didalamnya tersembunyi misi yang sangat besar untuk membangkitkan negeri  dan agama yang tercinta ini. Tapi kenapa semakin kesini bukannya semakin matang persiapan yang saya lakukan malah semakin serba berantakan, semua tidak tertata rapih tidak seperti sebelumnya. Apa karena niat ikhlas di awal yang sudah mulai berbelok akibat tertiup angin-angin ambisi yang ada? atau karena terlalu banyak maksiat yang menggelapkan hati ini? atau apakah memang tidak pantas seorang Adib mempunyai sebuah mimpi besar yang sama dengan orang-orang hebat di zaman terdahulu? Saya fikir tidak, karena Bermimpilah maka Allah akan memeluk mimpi-mimpimu dan ungkapan itu sering kali kita dengar dan menjadi motivasi tersendiri bagi kita khususnya saya untuk selalu mempunyai mimpi-mimpi yang suatu saat nanti akan kita capai, tapi bukan hanya mimpi-mimpi indah nan tinggi yang selalu kita bayangkan tanpa pengorbanan yang kita berikan untuk menukarkannya dengan mimpi itu. Setiap tetes demi tetes keringat yang kita keluarkan menjadi bukti seberapa dekatkah kita dengan mimpi-mimpi itu, there's nothing impossible in this world, you can get it if you want. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah beranikah kita mempunya mimpi-mimpi yang tinggi? Karena konsekuensi dari orang yang berani mempunyai mimpi dan cita-cita yang tinggi adalah dapat mewujudkan mimpi dan cita-cita tersebut. Karena jika tidak, buat apalah mimpi-mimpi itu semua? hanya menjadi angan-angan sampah yang melarutkan kita dalam kepedihan hanya karena kita tidak bisa menggapai mimpi-mimpi itu.

Semua orang mempunyai kesempatan yang sama untuk meraih mimpi-mimpi mereka, walaupun setiap orang memiliki kelebihan dan kekurang masing-masing, tapi apalah arti itu semua jika kita bisa menutupi segala kekurangan yang kita miliki dengan tekat yang kuat dan setelah itu dengan ditambah dengan doa akan menjadi formula yang sempurna untuk bisa menjadikan cita-cita kita yang dari dahulu kita inginkan menjadi sebuah kenyataan. Semangat dib dan semangat untuk semua orang didunia ini yang mempunyai harapan dan cita-cita yang tinggi yang apalagi cita-cita itu memiliki manfaat yang sangat banyak bagi lingkungan sekitar, dilain sisi banyak orang-orang yang sibuk mengejar cita-citanya tanpa melihat kondisi saudara-saudaranya yang sedang kesusahan.


“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ”
QS 13:11

Alhamdulillah

Minggu, 15 Mei 2011

Back to home

   Alhamdulillah, segala puji hanya untuk Mu yang telah memberikan saya kesempatan sekali lagi untuk pulang kerumah dan bertemu dengan keluarga saya, sudah sekitar 6 bulan lamanya saya tidak bertemu mereka. Ya mungkin bagi kalian 6 bulan bukan merupakan waktu yang lama untuk perpisahan. Tapi yang ini lain kawan, hal ini dikarenakan tanggal 21 nanti, ayah saya akan dimutasi ke Balikpapan, ya maklum saja beliau bekerja sebagai PNS dan mutasi merupakan hal yang sangat wajar di alami oleh orang-orang yang bekerja sebagai PNS tak terkecuali ayah saya. Tapi hal yang paling mengkhawatirkan saya adalah setelah ini, ayah saya harus bekerja di Balikpapan, dan saya harus kuliah di Malang, sedangkan ibu dan adik-adik saya di Depok. Entah kenapa hal ini sangat saya khawatirkan, karena tidak ada lagi kepala keluarga dirumah. Tapi kan ada Allah, yap hanya kepada Allah lah saya selalu berdoa supaya DIA senantiasa menjaga kami dimana pun dan kapanpun kami berada, karena jujur saya sungguh takut kehilangan mereka, melihat ada beberapa teman saya yang sudah ditinggal oleh bapak atau ibu nya dan bahkan keduanya. Dan hal itu lah yang sering menghantui saya kalau saya jauh dari orang tua saya. Saya lebih memilih meninggalkan mereka terlebih dahulu dibanding ditinggalkan mereka, karena saya tau bagaimana rasanya kehilangan dan ditinggalkan. Tapi yasudahlah apapun yang terjadi semuanya sudah tertulis di lauh mahfudz, dan kita sebagai hambaNya hanya bisa menerima takdir yang telah ditentukan, jodoh, umur dan rezeki sudah tertata dan dipersiapkan dengan baik oleh Sang Pencipta.

Wallahualam

Cintailah ia dalam diam, dari kejauhan, dengan kesederhanaan dan keikhlasan…

 Ketika cinta kini hadir tidaklah untuk Yang Maha Mengetahui saat secercah rasa tidak lagi tercipta untuk Yang Maha Pencipta izinkanlah hati bertanya untuk siapa ia muncul dengan tiba-tiba…mungkinkah dengan ridha-Nya atau hanya mengundang murka-Nya…

Jika benar cinta itu karena Allah maka biarkanlah ia mengalir mengikuti aliran Allah karena hakikatnya ia berhulu dari Allah maka ia pun berhilir hanya kepada Allah..
“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS. Adz Dzariyat:49)
“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, danorang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelakidan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akanmemampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas(pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. ” (QS. An Nuur: 32)
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmuisteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasatenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang.Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tandabagi kaum yang berfikir. ” (QS. Ar-Ruum:21)
Tapi jika memang kelemahan masih nyata dipelupuk matamaka bersabarlah… berdo’alah… berpuasalah…
” Wahai kaum pemuda,siapa saja diantara kamu yang sudah sanggup untukmenikah,maka menikahlah,sesungguhnya menikah itu memelihara mata,danmemelihara kemaluan,maka bila diantara kamu belum sanggup untukmenikah,berpuasalah,karena ssungguhnya puasa tersebut sebagaipenahannya ” (Hadist)
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatuperbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. ” (QS. Al Israa’ :32)

Cukup cintai ia dalam diam…
bukan karena membenci hadirnya…tapi menjaga kesuciannya bukan karena menghindari dunia…tapi meraih surga-Nya bukan karena lemah untuk menghadapinya…tapi menguatkan jiwa dari godaan syaitan yang begitu halus dan menyelusup..

Cukup cintai ia dari kejauhan…
karena hadirmu tiada kan mampu menjauhkannya dari cobaankarena hadirmu hanya akan menggoyahkan iman dan ketenangankarena hadirmu mungkin saja ‘kan membawa kenelangsaan hati-hati yang terjaga…

Cukup cintai ia dengan kesederhanaan…
memupuknya hanya akan menambah penderitaan menumbuhkan harapan hanya akan mengundang kekecewaanmengharapkan balasan hanya akan membumbui kebahagiaan para syaitan…

Maka cintailah ia dengan keikhlasan
karena tentu kisah fatimah dan ali bin abi thalib diingini oleh hati…tapi sanggupkah jika semua berakhir seperti sejarah cinta Salman Al Farisi…?


…boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat burukbagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. ” (QS. AlBaqarah:216)“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, danlaki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), danwanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-lakiyang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yangdituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduhitu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)” (QS.An Nuur:26)
Cukup cintai ia dalam diam dari kejauhan dengan kesederhanaan dan keikhlasan…
karena tiada yang tahu rencana Tuhan…mungkin saja rasa ini ujian yang akan melapuk atau membeku dengan perlahan
karena hati ini begitu mudah untuk dibolak-balikan…serahkankan rasa yang tiada sanggup dijadikan halal itu pada Yang Memberi dan Memilikinya biarkan ia yang mengatur semuanya hingga keindahan itu datang pada waktunya…
“Barangsiapa menjaga kehormatan orang lain, pasti kehormatan dirinya akan terjaga.” (Umar bin Khattab ra.)

from someone at his note....

Kamis, 12 Mei 2011

Maka nikmat tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan??

   "Maka nikmat tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan". Yap,sepenggal ayat itu adalah salah satu ayat dari surat Ar-Rahman, tapi ada yang menarik dari ayat tersebut. Ya, ayat tersebut selalu di ulang-ulang hingga 31 x, hal tersebut dikarenakan Allah ingin menyadarkan kita tentang nikmat-nikmat yang selama ini kita dapatkan namun tidak pernah kita syukuri keberadaanya. Hal ini selalu saya ingat semenjak kejadian kemarin malam.
    Kira-kira kamis malam lalu, malam itu saya bergegas mempersiapkan diri saya untuk bermain futsal dengan teman kampus saya, dan memang tiap minggunya kami selalu rutin mengadakan latihan, ya selain untuk olahraga juga untuk mempersiapkan diri menghadapi turnamen. Sebelum kelapangan saya menjemput seorang teman saya, sebut saja bedul. Ketika kita ingin berangkat ke lapangan futsal, tiba-tiba kami kedatangan seorang ibu yang tampak kelelahan dengan anaknya yang berumur sekitar 3 tahun yang sedang digendongnya. Lalu terjadi lah percakapan yang kira-kira seperti ini.

Ibu : " mas maaf, fakultas kedokteran UB dimana ya mas?"
saya dan bedul : "(diam sejenak karena kebingungan), maaf bu maksudnya?"
ibu : "ia mas, saya mencari fakultas kedokteran UB, anak saya kakinya infeksi (sambil menunjuk luka anaknya tersebut)"
saya : "agak jauh bu, ibu mau saya antar (sambil mengeluarkan motor dari garasi)"
ibu : "iya mas mau, tapi saya tidak punya uang untuk berobat, saya sudah sempat berkeliling memeriksa anak saya tapi tidak kunjung sembuh, saya juga udah jalan kaki cukup jauh dan tadi minta tolong sama orang cuma dikasih 2000, anak saya juga dari tadi rewel minta susu terus"
saya : glek.............. (terdiam cukup lama)
bedul : "ibu mau dibelikan susu? yaudah bu saya belikan, tunggu sebentar ya."
saya : " nih dul pake motor gw biar cepet"
(sambil menunggu bedul beli susu, saya mempersilahkan ibu tsb masuk dan mengajaknya mengobrol, dan kebetulan temannya bedul, tommy keluar)
tommy : "ibu asalnya darimana bu?"
ibu : "saya dari surabaya mas"
tommy : "terus disini tinggal nya dimana?"
ibu : "saya ngontrak mas, tapi udah setahun belum bayar, ini aja saya diusir2in sama yg punya kontrakan, soalnya ada yg mau nempatin karena dia lebih punya uang katanya, trus saya bilang kalau anak saya masih sakit dan minta keringanan untuk diundur, tapi tetep gk diterima mas dan akhirnya saya tidurnya sembarang mas, kadang diemperan kadang dimesjid gk tentu"

(well, awalnya saya sempet berfikir kalau lagi ada didalam reallity show yang kayak di TV-TV, yang dimana banyak kamera tersembunyi yang memantau kita, tp setelah melihat mata ibu tersebut saya benar-benar sadar ternyata ini nyata gak kayak yang di TV-TV, dan obrolan pun berlanjut)

saya : "maaf bu, kalau boleh tau suami ibu kemana ya?"
ibu : "suami saya ninggalin saya mas waktu anak saya yang ini umurnya 3 bulan, saya juga masih ada 2 anak dirumah, jadinya ya saya yang menghidupi mereka."
Tommy : "memang ibu kerja apa sekarang?"
Saya : "yah gak tentu mas, biasanya saya cuma jadi kuli panggul, ngangkatin belanjaan orang yang banyak, itu juga penghasilannya gak nentu, kadang 2000, 5000, kadang kalau baik dikasih 10000."

saya : (astagfirullah..)

(dan bedul pun datang dengan membawa susu dan roti)

bedul : "ini bu susunya, maaf gak bisa ngasih banyak"
ibu : "iya mas, makasih banyak mas atas bantuannya"


well, mungkin itu hanya satu dar berjuta-juta kisah tentang seseorang yang banting tulang mencari uang untuk bertahan hidup, dan setelah kejadiaan itu entah kenapa saya jadi sedkit enggan menghabiskan uang. Di keserbacukupan saya terkadang saya masih suka mengeluh atas nikmat yang telah diberikan, padahal masih banyak saudara-saudara saya yang bernasib sama seperti ibu itu. Ya semoga saja setelah kejadiaan tersebut bisa lebiih meningkatkan rasa syukur saya terhadap nikmat yang telah di berikan oleh Allah..

Terimakasih ya Allah atas nikmat yang telah kau berikan.