Jumat, 29 April 2011

Doa Rabithah

Untuk semua saudaraku di dunia ini, yang senantiasa membela kebenaran dimanapun dan kapanpun kalian berada, yang rela mengorbankan harta, jiwa dan pikirannya untuk menegakkan agama yang benar ini, ku ucapkan sebuah doa ini supaya dimanapun dan bagaimana pun kondisi kita, kita bisa senantiasa istiqamah dan mati syahid di jalan Nya

Bismillahirrahmanirrahim
Katakanlah: “Wahai Allah yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerjaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki.
Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki.
Ditangan Engkaulah segala kebajikan.
Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Engkau masukan malam ke dalam siang dan Engkau masukan siang ke dalam malam.
Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup.
Dan Engkau beri rizki kepada siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (perhitungan).
(Q.S. Ali-Imron:26-27)
Ya Allah, sesungguhnya ini adalah malam-Mu yang telah menjelang dan siang-Mu yang telah berlalu, serta suara-suara dari para penyeru-Mu, maka ampunilah aku.
Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan mahabbah hanya kepada-Mu
Bertemu untuk taat kepada-Mu
Bersatu dalam rangka menyeru di jalan-Mu
dan berjanji setia untuk membela syari’at-Mu
Maka kuatkanlah ikatan pertaliannya
Ya Allah, abadikanlah kasih sayang-nya
Tunjukkanlah jalannya dan penuhilah dengan cahaya-Mu yang tidak pernah redup
Lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan keindahan tawakkal kepada-Mu
Hidupkanlah dengan ma’rifat-Mu
dan matikanlah dalam keadaan syahid di jalan-Mu
Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong
Amiin…

Senin, 25 April 2011

UNIVERSITAS KEHIDUPAN

"Ketika kerjamu tidak dihargai,maka saat itu kau sedang belajar arti KETULUSAN...

Ketika usahamu dinilai tidak penting,maka saat itu kau sedang belajar arti KEIKHLASAN...

Ketika hatimu terluka sangat dalam,maka saat itu kau sedang belajar arti MEMAAFKAN..

Ketika kau harus lelah dan kecewa,maka saat itu kau sedang belajar arti KESUNGGUHAN..

Ketika kau merasa sepi,maka saat itu kau sedang belajar arti KETANGGUHAN..

Ketika kau harus membayar biaya yang sebenarnya tidak perlu kau tanggung,maka saat itu kau sedang belajar arti KEMURAHAN HATI...

Tetap semangat..
Tetap sabar..
Tetap senyum..
Terus Belajar..

Karena engkau sedang menimba ilmu di UNIVERSITAS KEHIDUPAN..."

Minggu, 24 April 2011

sebuah pelajaran luar biasa dari seorang anak kecil

           Ada satu kejadiaan yang sungguh sangat menarik, yang entah kenapa, belakangan ini saya sungguh merasa malu, malu semalu-malunya sebagai seorang laki-laki dewasa. Hal ini dikarenakan ketika setiap minggu  pagi,  saya selalu bertemu dengan seorang anak kecil yang sedang menghafal al-quran dan hadist secara tekun yang dibimbing oleh orang tuanya. Awalnya saya menganggapnya biasa, tapi entah kenapa setiap saya mendengar anak tersebut tilawah seluruh badan saya bergetar, bulu kuduk saya juga ikut merinding dan hal ini tidak saya rasakan jika mendengar teman saya atau khususnya saya sendiri tilawah Al-Quran. Minggu per minggu pun saya lewati dan saya tetap tidak tahu hal apa yang menyebabkan saya merasakan hal yang saya pikir sungguh sangat mengherankan, saya berusaha mencari tahu rahasia apakah yang dimiliki anak tersebut sehingga bisa membuat saya merasakan hal yang sungguh luar biasa seperti ini. Dan akhirnya sekarang saya tahu rahasianya, yaitu terletak pada satu sifat yang bernama Ikhlas. Ada apa dengan ikhlas? kenapa begitu berpengaruh kah satu sifat ini? Lalu apa bedanya keikhlasan seorang anak kecil terhadap keikhlasan orang dewasa secara umumnya. Menurut yang saya temukan, keikhlasan seorang anak kecil merupakan keikhlasan yang murni muncul dari dalam lubuk hatinya, keikhlasan yang benar-benar belum ternodai oleh bubuk ambisi yang terkadang menyelip didalam hati, keikhlasan yang senantiasa melindungi hatinya supaya tidak mudah terkena penyakit hati. Dan hal itu lah yang menyebabkan kenapa kita selalu merasa bahagia jika melihat perilaku atau aktivitas seorang anak kecil, seperti ada kepuasan batin sendiri.

Lalu, apa bedanya dengan keikhlasan seorang anak dewasa? mungkin tidak bisa digeneralisirkan, tapi kira-kira begini, ketika seseorang itu dewasa pasti banyak sekali kemaksiatan-kemaksiatan yang dilakukan, baik itu maksiat kecil maupun maksiat lainnya, dan ketika maksiat itu dilakukan maka akan secara otomatis mengotori hati seseorang dan mengakibatkan penyakit hati pada orang tersebut (iri, dengki, dkk). Oleh sebab itu terkadang keikhlasan orang dewasa tidak semurni seperti keikhlasan anak kecil karena seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya.

Lalu solusinya apa??? yaaa tiada lain dan tiada bukan perbanyak istigfhar dan muhasabah diri, apakah semua perbuatan kita ini sudah berdasarkan hanya karena Allah atau tidak, dan yang paling penting adalah mengurangi maksiat supaya hati kita tidak terkotori. Dan hal ini sebaiknya dilakukan sedini mungkin, kenapa? jika kita diri kita terbiasa melakukan maksiat baik itu disadari apa tidak, maka tunggu saja kematiaan terhadap hati kita. Lalu jika hati kita sudah mati, ya otomatis kita tidak akan bisa lagi membedakan mana yang baik dan buruk,  dan pepatah yang mengatakan bahwa "Dengarkanlah apa kata hatimu, karena hati tidak akan pernah bohong" sepertinya tidak ada lagi..


Berhati-hatilah dalam menjaga hati (qalbu). Karena pangkal dari baik/buruknya diri adalah hati. Rasulullah telah bersabda,
Hadits di dalam jasad terdapat mudhghah

“Ingatlah bahwa di dalam jasad terdapat sekerat daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasadnya. Dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.” (H.R. Bukhari no.52 dan Muslim no.1599, Dikutip dari sebagian hadits no.6 Arba’in An-Nawawiyah).

Dan sekali lagi, yuk sama-sama menjaga kebersihan hati ini supaya kita bisa selalu dekat dengan diri Nya, dan bisa lebih mudah menjadi orang yang selalu lebih baik setiap harinya...

8 Fakta Kelakuan Anak Terhadap Orang Tua

Ini menurut survey yang saya dapet, anak-anak kelakuannya kadang suka bikin orang tua sedih.
1. Anak selalu berfikir orang tuanya pilih kasih terhadap saudaranya.
2. Anak selalu merasa terkekang oleh orang tuanya.
3. Anak selalu merasa lebih pintar dan membantah nasihat orang tuanya.
4. Anak selalu merasa bahwa dirinya tidak disayang.
5. Anak selalu memperhitungkan segala sesuatu yang telah ia lakukan untuk orang tuanya.
6. Anak selalu meributkan harta warisan orang tuanya.
7. Anak selalu menganggap remeh pekerjaan yang telah diberikan.
8. Anak selalu membentak orang tuanya saat berbicara.

Tapi ada 8 fakta juga bahwa ada yang tidak diketahui anak apa yang dirasa juga perbuat sama orang tuanya.
1. Anak tidak mengerti jika dibalik sepengetahuannya orang tuanya selalu memuji anak di depan saudaranya yang lain.
2. Anak tidak mengerti bahwa semua yang dilakukan orang tuanya hanya demi kebaikan anaknya.
3. Anak tidak mengerti bahwa orang tuanya telah menjalani kehidupan yang lebih keras dibanding anaknya.
4. Anak tidak mengerti bahwa di setiap doa dan harapan orang tua nama anak selalu di ingat.
5. Orang tua tidak pernah memberitahukan pengorbanannya selama melahirkan anaknya.
6. Orang tua telah mempersiapkan harta warisan untuk anaknya, hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menyerahkannya.
7. Orang tua tidak rela melihat anaknya hidup bersusah – susah di tempat orang lain.
8. Anak tidak mengerti setiap kali ia membentak, hati orang tua akan bergetar dan menyebabkan umurnya lebih pendek.
http://www.kerincigoogle.com/2011/02/8-fakta-kelakuan-anak-terhadap-orang.html

Rabu, 30 Maret 2011

elastis ataukah inelastis

Bismillahirrahminrrahim

Assalamualaikum wr wb

  Udah lama gak nulis nih, tapi entah kenapa sekalinya mau menulis, jd terinspirasi oleh materi mikro ekonomi yang mengenai elastis dan inelastis permintaan suatu barang yang disampaikan kemarin dan hubungannya dengan ibadah wajib kita khususnya, ya mungkin akan benar-benar sangat tidak nyambung atau bahkan tidak bisa dianalogikan seperti ini, tapi setidaknya bisa menjadi sedikit renungan untuk kita. Mungkin sebelumnya saya akan sedikit menjelaskan apa sih definisi dari inelastis dan elastis dari sisi ekonomi.

Barang Elastis adalah elastisitas > 1. Prosentase perubahan kuantitas permintaan > prosentase perubahan harga. Ini sering terjadi pada produk yang mudah dicari substitusinya. Misalnya saja pakaian, makanan ringan, dan lain sebagainya. Ketika harganya naik, konsumen akan dengan mudah menemukan barang penggantinya atau beralih ke barang lain (barang subtitusinya banyak)

Barang Inelastis adalah elastisitas < 1. Prosentase perubahan kuantitas permintaan < dari prosentase perubahan harga. Contoh permintaan tidak elastis ini dapat dilihat diantaranya pada produk kebutuhan. Misalnya beras, meskipun harganya naik, orang akan tetap membutuhkan konsumsi beras sebagai makanan pokok. Karenanya, meskipun mungkin dapat dihemat penggunaannya, namun cenderung tidakakan sebesar kenaikan harga yang terjadi. Sebaliknya pula, jika harga beras turun konsumen tidak akan menambah konsumsinya sebesar penurunan harga. Ini karena konsumsi beras memiliki keterbatasan (misalnya rasa kenyang). Contoh lainnya yang sejenis adalah bensin. Jika harga bensin naik, tingkat penurunan penggunaannya biasanya tidak sebesar tingkat kenaikan harganya. Ini karena kita tetap membutuhkan bensin untuk bepergian. Sama halnya, ketika harganya turun, kita juga tidak mungkin bepergian terus menerus demi menikmati penurunan harga tersebut. Nah yang artinya adalah mau harganya naik atau turun, kita tetap akan mengkonsumsi barang tersebut dengan jumlah yang sama.

  Ya mungkin dengan sedikit penjelasan dan perbandingan yang dipaparkan, kita bisa sedikit mengerti perbedaan diantara keduanya, tapi pada kesempatan kali ini bukan dua hal itu lah yang akan saya bahas. Melainkan kaitannya jika dihubungkan dengan kita sebagai umat yang beragama khususnya muslim. Seperti yang saya tuliskan di judul essay saya "elastis atau inelastiskah semua ibadah wajib anda?" ya mungkin bahasa simpelnya seberapa pentingkah ibadah wajib itu buat anda? ya khususnya dalam hal ini adalah shalat, apakah shalat termasuk inelastis ataukah elastis buat anda? Seberapa butuhkah anda terhadap shalat? karena saya pikir masih banyak saudara-saudara kita yang mengelastisitaskan shalat dengan hal-hal lain, khususnya yang bersifat duniawi, padahal seperti yang kita ketahui shalat merupakan salah satu rukun Islam dan menjadi ibadah yang paling pertama kali dilihat di yaumul hisab nanti. Jika dari amal ibadah shalat saja masih berantakan, pastinya sangat sulit ibadah-ibadah lain untuk diterima atau bahkan diperhatikan. 

Dan akhirnya, jika sekilas memang terlihat agak tidak nyambung, tapi saya rasa tidak mengurangi esensi dari tulisan ini dan sekali lagi saya mengajak untuk senantiasa selalu berusaha menjadi orang yang lebih dan lebih baik lagi dari sebelumnya, karena rasulullah SAW bersabda :
"Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin maka dia adalah orang yang beruntung, barang siapa yang hari ini sama dengan kemarin maka dia adalah orang yang merugi, dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin maka ia adalah orang yang celaka"



 

Tidak kuciptakan jin dan manusia selain untuk beribadah kepada-Ku.(Q.S. Aż-żariyāt:56)



"Inna shalati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi rabbila'lamin" 
(sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku bagi Allah, tuhan seru sekalian alam)


Dan akhirnya, jika sekilas memang terlihat agak tidak nyambung, tapi saya rasa tidak mengurangi esensi dari tulisan ini dan sekali lagi saya mengajak untuk senantiasa selalu berusaha menjadi orang yang lebih dan lebih baik lagi dari sebelumnya, karena rasulullah SAW bersabda :
"Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin maka dia adalah orang yang beruntung, barang siapa yang hari ini sama dengan kemarin maka dia adalah orang yang merugi, dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin maka ia adalah orang yang celaka"


 

Minggu, 27 Februari 2011

nikmatnya ukhuwah dan silaturahmi

Bismillahirrahmanirrahim..
Assalamualaikum wr wb....

     Mungkin kali ini saya hanya ingin sedikit bercerita tentang pengalaman liburan saya ketika di Depok, sudah kurang lebih 30 hari saya berada di kota tercinta ini, kota yang dimana saya mendapatkan pengalaman yg begitu banyak, dan saya sangat bersyukur kepada Allah SWT karena sudah dititipkan disini, kota yang dimana telah mempertemukan saya dengan tarbiyah, yang alhamdulillah dengan tarbiyah saya dipertemukan oleh orang-orang yang sangat hebat disini, subhanallah hanya itu yang bisa saya ucapkan. Begitu banyak pengalaman dan ilmu yang saya dapat disini, begitu juga ukhuwah yang saya fikir tidak semua orang merasakan nikmat Allah yang satu ini.
Dan hari ini hari terakhir saya di Depok, alhamdulillah masih diberikan oleh Allah waktu untuk berkunjung ke suatu tempat yang paling oke di Depok (pasti udah tau semua lah, bahkan sampe banyak yg bilang kalau kurang kerjaanlah, cuma grecokin doank lah.trus ada yg nyuruh-nuyurh bayar parkir gitu -.-, ya tapi gapapa lah,cuma becandaan palingan, ya daripada keluyuran gk jelas mendingan ngetem aja di markas) hahahha. Dari sini saya mulai sadar bahwa nikmat ukhuwah merupakan nikmat terindah yang Allah berikan ke saya dan saya yakin bahwa teman-teman semua baik yang halaqoh ataupun tidak, pasti sepakat dengan statement saya ini. Nikmat yang saya pikir tidak semua orang bisa merasakannya karena mungkin mereka terlalu terlena terhadap ambisi-ambisi mereka yang terkadang membuat mereka lupa akan sebuah sunnah rasul yang bernama silaturahmi.

          Silaturahmi merupakan ibadah yang sangat agung, mudah dan membawa berkah. Kaum muslimin hendaknya tidak melalaikan dan melupakannya. Sehingga perlu meluangkan waktu untuk melaksanakan amal shalih ini. Demikian banyak dan mudahnya alat transportasi dan komunikasi, seharusnya menambah semangat kaum muslimin bersilaturahmi. Bukankah silaturahmi merupakan satu kebutuhan yang dituntut fitrah manusia? Karena dapat menyempurnakan rasa cinta dan interaksi sosial antar umat manusia. Silaturahmi juga merupakan dalil dan tanda kedermawanan serta ketinggian akhlak seseorang.
Silaturahim termasuk akhlak yang mulia. Dianjurkan dan diseru oleh Islam. Diperingatkan untuk tidak memutuskannya. Allah Ta’ala telah menyeru hambanya berkaitan dengan menyambung tali silaturahmi dalam sembilan belas ayat di kitab-Nya yang mulia. Allah Ta’ala memperingatkan orang yang memutuskannya dengan laknat dan adzab, diantara firmanNya,


فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا فِي اْلأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ
Artinya: “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan ? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikanNya telinga mereka, dan dibutakanNya penglihatan mereka.” (QS Muhammad 47:22-23).


وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Artinya: “Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) namaNya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS An Nisaa’ 4:1).


Juga sabda Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam ,
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Artinya: “Barangsiapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturahim.”

Akhir kata alangkah sangat meruginya jika seseorang itu jarang sekali bersilaturami, karena seperti kita ketahui manusia merupakan mahluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Semoga tulisan ini bisa membuat kita untuk selalu mempererat tali ukhuwah kita..

Sekian...
Alhamdulillah

28-02-2011
Muhammad Adib Ramadhani
Wassalamualaikum wr wb





Minggu, 13 Februari 2011

Nggak usah ribet deh, cukup jadi Ali bin Abi Thalib ajaaaa

Bismillahirrahmanirrahim...
Assalamualaikum wr wb

oke pada kesemapatan kali ini saya ingin sedikit share tentang sebuah kisah yang saya rasa teman-teman semua sudah cukup banyak yg mengetahuinya, sebuah kisah romantis sepanjang zaman, bukan kisah romeo dn juliet ataupun Twilight yang membuat decak kagum bagi para pasangan muda-mudi. Yap kisah ini adalah tentang Ali bin Abi Thalib, pada saat ingin melamar Fathimah Az-Zahra. Bukan karena sedang galau atau apapun itu namanya, tapi yang pasti kisah ini patut kita ketahui bersama..

Kisah ini diambil dari buku Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A.Fillah

chapter aslinya berjudul “Mencintai sejantan ‘Ali”

Begini ceritanya. .jeng, ,jeng



Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah.
Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya.
Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya.

Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta.
Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta.
Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.
Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya!
Maka gadis cilik itu bangkit.
Gagah ia berjalan menuju Ka’bah.
Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam.
Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali.
Mengagumkan!
‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta.

Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan.
Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi.
Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah.
Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.
Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr.
Kedudukan di sisi Nabi?
Abu Bakr lebih utama,
mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali,
namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi.
Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah
sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya..
Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah.
Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab..
Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.
Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud..
Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali?
Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah.
’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.

”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.
”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan.
Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.
Lamaran Abu Bakr ditolak.
Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri.
Ah, ujian itu rupanya belum berakhir.
Setelah Abu Bakr mundur,
datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa,
seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka,
seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut.
’Umar ibn Al Khaththab.
Ya, Al Faruq,
sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah.
’Umar memang masuk Islam belakangan,
sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr.
Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya?
Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman?
Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin?
Dan lebih dari itu,
’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata,
”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”
Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah.

Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya.
’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam.
Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam.
Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir.
Menanti dan bersembunyi.
’Umar telah berangkat sebelumnya.
Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah.
”Wahai Quraisy”, katanya.
”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah.
Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!”
’Umar adalah lelaki pemberani.
’Ali, sekali lagi sadar.
Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah.
Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak.
’Umar jauh lebih layak.
Dan ’Ali ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan.
Itulah keberanian.
Atau mempersilakan.
Yang ini pengorbanan.

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak.
Lamaran ’Umar juga ditolak.
Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi?
Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah?
Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah?
Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.
Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka.
Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka?
Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu?
Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan.
”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”
”Aku?”, tanyanya tak yakin.
”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

’Ali pun menghadap Sang Nabi.
Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah.
Ya, menikahi.
Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya.
Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya.
Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap?
Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap?
Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.
”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan.
Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya.
Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya.
Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.

Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!”
Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.
Dan ia pun bingung.
Apa maksudnya?
Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan.
Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab.
Mungkin tidak sekarang.
Tapi ia siap ditolak.
Itu resiko.
Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab.
Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan.
Ah, itu menyakitkan.

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
”Entahlah..”
”Apa maksudmu?”
”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,
”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua!
Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah.
Dengan menggadaikan baju besinya.
Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya.
Itu hutang.

Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah.
Dengan keberanian untuk menikah.
Sekarang.
Bukan janji-janji dan nanti-nanti.
’Ali adalah gentleman sejati.
Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel,
“Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”

Inilah jalan cinta para pejuang.
Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab.
Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Seperti ’Ali.
Ia mempersilakan.
Atau mengambil kesempatan.
Yang pertama adalah pengorbanan.
Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali,

“Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda”

‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu”

Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”

Jadi bisa kita lihat bersama bahwa ternyata memang dari dulu Fatimah sudah mempunyai perasaan dengan Ali dan menunggu Ali untuk melamarnya. Begitu juga dengan Ali, dari dulu dia juga sudah mempunyai perasaan dengan Fatimah,. Tapi mereka berdua sabar menyembunyikan perasaan itu sampai saat nya tiba, sampai saatnya ijab Kabul disahkan (ehm2). Wah..wah.. mereka hebat yaaa (harus kita contoh, teman-teman). Walaupun Ali sudah merasakan kekecewaan 3 kali keduluan orang lain, akhirnya kekecewaan itu terbayar juga. Dan oleh sebab itu untuk apalah kita terlalu cepat menungkapkan perasaan kita kepada seseorang yang kita cintai, kalau toh ungkapan perasaan kita itu tidak di finishing dengan sebuah ikatan resmi yang memang diridhai Allah, sebuah ikatan yang bisa menjamin bahwa pasangan kita itu bisa kita miliki sepenuhnya. Apalagi besok hari Valentine yang katanya hari kasih sayang yang dimana banyak dijadikan moment oleh para remaja untuk mengungkapkan perasaanya kepada seseorang, wah sungguh sangat malang sekali mereka menunggu setahun sekali untuk mengungkapkan perasaannya, belum-belum jikalau nanti ditolak (hiks2)...

And the last, ada sebuah ayat gacoan nih buat para jombloan yang pengen dapet pasangan yang oke..

 ”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).” (QS : An-nur 26)


Jadi, bukan harta yang banyaklah untuk menunjukin seberapa kaya kita, bukan juga puisi-puisi cinta untuk menunjukkan seberapa romantis kita, tapi cukuplah menjadi orang yang lebih baik lagi, bukan hanya untuk mendapatkan pasangan yang oke (karena itu hanyalah sebuah hadiah dari Allah atas kekonsitenan kita karena telah menjadi orang yang lebih baik) tapi supaya kita bisa senantiasa menjadi orng yang beruntung..

Akhir kata, pasti setelah membaca tulisan ini banyak comment dari teman2,ya apapun commentnya saya hanya ingin mengatakan mohon maaf yaa jika ada perkataan yang kurng berkenan dan terlihat sangat sok tahu dan sok menggurui atau bahkan kalau mengatakan saya munafik ataupun jaim, tapi tujuan saya adalah untuk menjadi lebih baik lagi bukan hanya untuk diri saya, tetapi juga teman-teman pembaca..


Sekian...
Alhamdulillah

13-02-2011
Muhammad Adib Ramadhani
Wassalamualaikum wr wb